Teledor
@MuznaNAs
“Ada paket … !”teriak mba, dan adik yang sedang
di dekat pintu keluar pun segera menerima.
“Disemprot dulu pake Hand Sanitizer
paketnya” kata mba lagi.
“Kenapa mba?” tanya adik.
“Itu paket barang dari ‘c’” jawab mba.
“Hah … ih …” adik kaget dan langsung menjatuhkan
paket di kursi.
“Kamu cuci tangan dulu pake sabun, ambil alcohol,
semprotkan!, kursinya juga di semprot”. timpal ibu.
“Ya Allah mba … barang apa?” tanya ibu pada mba.
“Aku perlu barang itu, dan adanya produk ‘c’”
jawab mba.
“Kenapa harus produk ‘c’, apakah harus sekarang
belinya?, dimana kondisi sedang genting?” ibu mulai cemas.
“Ibu itu lho, apa tidak baca sifat virus, dia
mati diudara dalam lima jam, dan pada suhu panas. Selain itu mesti sudah ada prosedur
pengiriman barang, sebelum dan sesudah sampai di era covid ini” pajang lebar
mba menjelasan.
Bukan masalah sifat virus bagi ibu, namun masalah
sensitifitas. Apa namanya jika saat wabah corona, kita malah menerima kiriman
paket dari negri pertama terkena covid-19? Hal ini menunjukan ketidak
hati-hatian. Yang seperti ini namanya teledor.
Betapa shocknya ibu, dengan kejadian ini. Ibu
adalah tipe intuiting, dia memiliki "Kecerdasan Indra Keenam",
berpikiran jangka panjang, optimistis dan terkonsep. Jika adak kejadian terlihat
dalam pandangan mata maka dalam pikiranya jelas terbayang bagaikan nyata. Meski
belum terjadi kadang sudah dirasakan
terjadi.
Begitu pun saat covid, baru dengar infonya saja,
ibu sudah merasakan seperti yang terkena. Badannya ikut panas dingin. Apalagi ini barang dari negara ‘c’, bagi ibu
terbayang virus itu menempel di barang, maka semua yang terkena kursi dan meja
saat membuka paket ibu bersihkan sesuai standar covid.
Kok ya ada-ada saja, membuat deg-degan seisi
rumah. Semoga tidak terjadi apa-apa.Ya Allah … lindungi kami, ampuni kami yang
luput dan dholim atas diri kami sendiri. Dan janganlah Engkau hukum
kami, jika salah. Allahuma aamiin.
#kelassalmanmenulis1
#safjogja
#covid-19stories

Comments
Post a Comment