Dilema bunda
@MuznaNAs
Add caption

DILEMA; maafkan bunda nak...

Saat mendengar ada wabah corona, yang pertama dingat adalah anak yang berada di pondok. Menurut informasi, salah satu cara pencegahannya adalah dengan memutus mata rantai penyebaranya. Salah satunya bagi yang belum terkena adalah berdiam diri di rumah saja. Ada banyak wilayah sudah melakukan lock down, itu artinya kita tidak boleh kemana-mana. Lantas bagaimana anakku?.

Sebagai bunda, yang lebih mengedepankan perasaan, tidak dapat dipungkiri mengharapkan anak bisa pulang dari pondok, agar bisa berkumpul. Namun kebijakan yayasan baru merumahkan lembaga yang PAUD dan SD kelas bawah. Sedang yang kelas 6 karena sedang tryout dan yang di asrama (pondok) belum diberlakukan. Namun dijaga agar tidak keluar dan yang dari luar (orangtua) disarankan tidak ada penjengukan untuk sementara. Ya Allah bagaimana?.

Antara kudu mematuhi aturan tersebut, tapi hati ini berat sekali. Iya … jika sepekan kedepan, jika sebulan atau lebih bagaimana?. Rasanya semakin berat saja. Maka malam itu juga kami ke pondok, sebelum edaran resmi keluar, kami bawaan persediaan buat sepekan. Sambil berdoa agar ada perubahan kebijakan.

Jelas ini bukan waktu yang tepat, tapi terpaksa dilakukan. Prosedur ijin kepada musyrif dan minta bertemu sebentar dihalaman depan pintu masuk. Tidak lama kami bertemu, sekedar berpesan apa yang sedang terjadi dan harus bagaimana mengatasinya agar anakku mengikuti semua saran pondok.

Alhamdulillah … tidak lama, pekan depanya sudah ada edaran resmi pemerintah untuk merumahkan semua anak sekolah. Maka seluruh anak yang di pondok pun dipulangkan. Lega sekali rasanya hati ini mendengar kabar tersebut. Membaca jadwal penjemputan kelas anak kami paling akhir, maka kami pun segera  menjemputnya.

Betapa dilema itu nyata adanya, di satu sisi sebagai orang yayasan yang membuat kebijakan, namun disisi lain sebagai wali dari anak di lembaga pendidikan, yang harus taat pada hasil kebijakan. Preventif lebih baik,  dan ternyata tidak kami saja yang segera menengok anak di pondok. Demikian cerita anakku, bahwa ibunya teman dia juga datang. Fitrahnya orangtua memanglah seperti itu. Melihat bahaya di depan mata, maka anak menjadi yang utama diperhatikan.

Kini kami sudah berkumpul, yang sebelumnya kami terpisah dan disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Berkerja, kuliah dan sekolah, kadang ingin berkumpul keluarga yang utuh pun sulit, waktu libur pun belum mesti bertemu, karena adanya anak yang di pondok. Sekarang Allah memberikan buat kita semua waktu berkumpul dengan keluarga setiap hari ... .
Segala puji bagi Allah, Zat yang berkehendak atas semua yang terjadi.


#kelassalmanmenulis1
#safjogja
#covid-19stories


Comments

Popular posts from this blog