CEMBURU NIH YE....

@MuznaNAs

Salahkah Bila Aku Cemburu? - Cemburu adalah naluri insaniah

Saat ini, dengan media sosial yang jauh menjadi dekat, yang hilang bisa muncul lagi dan kisah lama bisa terhubung kembali. Begitu katanya. Percaya atau tidak, mari kita simak kisah Tias, Imas dan Iin. Tias dan Imas dulu 30 tahun lalu satu kelas di sebuah SMP Negri Kota S.. Di kelas Tias dan Imas  ada Didi Juara Umum Sekolah dan Ketua OSIS (Organisasi Intra Sekolah). Mereka bersahabat dekat, dalam semua organisasi di SMP, seperti PRAMUKA dan PKS (Polisi Keamanan Sekolah). 

Tias dan Imas bertemu Iin  siswa dari SMP N lain di SMA. Di SMA Didi satu kelas dengan Iin. Namun persahabatan mereka tetap berjalan meski sudah tidak satu kelas. Hingga Tias harus pergi dan hilang kontak sampai mereka semua masing masing berkeluarga di kota yang berbeda.

Saat itu Hand Phone  (HP) belum ada. Maka wajar mereka tidak dapat tersambung kecuali saat Tias mengundang semua teman SMP nya dengan surat via pos di Acara Ulang tahun yang ke 17. Namun setelah itu mereka tidak pernah lagi saling kontak. Pernah ada reuni SMP, itupun Tias tidak tahu. Karena komunikasi tidak seperti saat ini. Ceritanya suatu saat, setelah berlalu waktu yang lama dan panjang.  Tias bisa kembali bertemu dengan teman teman SMP nya di group BBM (Black Berry Messeges) yang adminnya Guru mereka dulu. Guru yang menikah dengan murid,  adik kelas Tias tiga tahun lebih muda.

Betapa senangnya mereka bisa say hello lagi, bisa bercekrama di group tersebut. Meski baru sepuluh orang terhubung, semua cukup berjauhan, salah satunya ada yang bertempat tinggal di Bahrain, Suatu hari teman dekat Tias, Imas yang tahu kisah-kisah semasa SMP. Tiba-tiba bertanya dengan sangat penasaran, kepada Tias.

“Sebenarnya ada apa toh kamu dengan Didi”.
“Memang kenapa?, kok tiba-tiba tanya begitu?” tanya Tias  agak kaget saat disebut nama Didi. 
Sebab nama itu pernah datang di rumah orangtuanya dulu sebelum dia menikah dengan suaminya sekarang. 
“Aku dimarahi istri Didi, Iin, karena memberikan nomer Hand Phone (HP)  kamu ke Didi” jawab  Imas.
“Astaghfirullah ....., pernah sih Didi sms saya, sekedar say hello, setelah lama tidak bertemu. Hanya itu”.  
Karena memang Didi bukan maniac HP. Katanya HP nya jadul (jaman dulu) meski sudah berpangkat  dan berkecukupan beliau katanya sangat zuhud dan menjaga. Sehingga Didi tidak masuk dalam Group kami. Wajar akhirnya kami hanya saling tukeran nomer HP.

“Kan tidak perlu emosi atau marah, wong kita dulu sahabat, Didi juga diminta menghapus nomer mu, emang kenapa kamu sama Didi?, trus apa itu bahasa Iin memanggil kamu Ukhti Tias”. Imas nampak penasaran.
Wah.... kudu banyak sekali yang dijelaskan kepada Imas, pikir Tias. Dunia Tias dan Imas mungkin tidak sama. Dunia da’wah yang Tias geluti tidak bisa difahami Imas dengan mudah. Begitu juga saat Imas bertanya.

“Kamu katanya punya Ustadz yang sama ya? gimana ceritanya Didi ada di Luar Negri, kamu disini?”

Sejak kuliah, Tias belajar agama. Dan ternyata Didi di luar sana juga melakukan proses yang sama. Mungkin itu yang sulit difahami Imas. Ngaji apaan? Kok ustadznya sama. Tidak perlu difahamkan. Begitu pikir Tias. Terlalu rumit. Biar Imas menebak-nebak dan penasaran.

Tapi sebentar tadi kata Imas Istri Didi meminta men-delete nomer HP dirinya. Dalam hati Tias sadar, wajar jika Iin cemburu, karena dulu Didi pernah melamarnya. Dan Iin tahu itu. Namun kemudian membatalkan lamaran terhadap Tias, karena memilih Iin. Memang teman-teman bahkan Imas sekalipun tidak pernah tahu. It’s oke... kan belum jodoh, kenapa harus ribet. Kenapa juga Iin begitu sewot. Kita semua sudah punya pasangan masing-masing. Sudah bisa menjaga diri.

Tapi tidak salah juga jika istri Didi cemburu, Didi suaminya. Dia tidak ingin terjadi hil hil dalam keluarganya. Dia ingin menjaga keutuhan rumah tangga mereka.  Apik..... Tias hanya senyam senyum, membiarkan Imas penasaran. Imas tidak tahu, kalau dirinya tidak hanya di sms Didi, tapi juga di sms istrinya Didi, Iin. Isinya  smsnya :

“Maaf... ukhti, anti Ustadzah, sebaiknya tidak menggangu suami orang, saya tidak rela suami saya menyembunyikan nomer HP anti di phone sellulernya. Mungkin memang anti pilihan suami saya sebelum menikah dengan saya, tapi tolong jangan ganggu keluarga kami”.

“Ya Allah... Astaghfirullah, saya tidak pernah menggangu suami orang, salah siapa nomer HP saya disembunyikan suami mu. Kalau tidak ada apa-apa, kenapa Didi tidak terus terang. Agar istrinya tenang. Toh tidak terjadi apa-apa.  Mungkin Didi ingin menjaga perasaan istrinya, tapi malah ketahuan ada nomer tak dikenal di HPnya. Semoga pasangan Didi dan Iin tetap SAMARA (Sakinah Mawadah WaRahmah). karena aku tidak melakukan apa-apa, bahkan mendo’akan mereka”. Gumam Tias sendirian. Membiarkan Imas penasaran, kenapa bisa begitu, dan kenapa pake bahasa ukhti dan kenapa yang lain.

Namun begitulah... fitnah media sosial. Baru HP belum WA, BBM. Line dan apalagi yang lebih canggih sekarang. Semoga kita bisa lebih berhati-hati.



Comments

Popular posts from this blog